It's Complicated

Dia, atau kita yang gila?

01.56 by very_oe02

Tik-tok….tik-tok….tik-tokk…. Denting detik jam terus berlalu, hari ini aku menghadiri rapat pengurus organisasi daerahku untuk kesekian kalinya. Sepanjang rapat aku tak bisa konsentrasi, karena hari ini aku lelah sekali setelah seharian berurusan dengan tugas kampusku yang menumpuk. Hari ini aku serasa bermain “cookies” dengan judul “kejarlah daku tugasmu ku coret,,” dengan pemeran utama dosenku yang biasa aku gelar “pak Boss”. Rapat berjalan, waktu demi waktu berlalu dan……
Akhirnya rapat pengurus hari ini selesai, Plakkk.. badan terasa lelah, matapun sendu seperti balon 5 watt yang sudah diselimuti sarang laba-laba.
Sudah sore, mendekati waktu pulang.. aku menyempatkan untuk mendengarkan lagu di kamar salah satu temanku yang tinggal di secretariat kami. Beberapa lagu sudah lewat sejak lagunya Kobe “positive thinking” keluar dari speaker punya temanku yang sedikit pendiam nan rupawan ini. Setelah beberapa lagu itu kudengarkan, aku berniat untu pulang, tapi ada sesuatu yang membuatku tertahan. Aku mendengar ada pembicaraan seru antara temanku unjunk dan rahman di salah satu kamar disekretariat kami itu. Ada satu topik yang sedang hangat dibahas oleh mereka berdua. Adalah tentang keanehan seseorang.. yang pada pembicaraan itu mereka istilahkan dengan “orang gila” atau “orang aneh”.. Perdebatan panjang pun terjadi seputar pembahasan orang gila dan konsep akal dan insting yang masing-masing dipahami berbeda oleh kedua temanku yang bersemangat itu.. 

Lalu apa sih sebenarnya yang kita sebut “aneh” itu? Setiap sudut punya keanehannya sendiri-sendiri. Cobalah kita analisa hal tersebut. Darimanakah sebenarnya keanehan itu berasal? Sesuatu dianggap aneh, sebenernya hanya karena dia tidak nampak seperti yang lain. Seekor ayam akan sangat aneh ketika dia berada di komunitas anak itik. Tapi, dia bisa keliatan baik-baik saja waktu dia berada diantara saudara-saudara kandungnya.
Seorang individu akan dianggap aneh dalam suatu kelompok atau populasi ketika ia tidak menunjukkan cirri atau sifat dan perilaku yang menurut kaum mayoritas dalam populasi itu adalah “normal”!

Persepsi kita mengenai orang gila juga demikian, kita bisa mengatakan orang itu gila atau aneh ketika dia bertingkah tidak seperti kebanyakan orang yang dalam hal ini kita sepakati bahwa kebanyakan orang yang dimaksud adalah orang yang “normal”.
Padahal, ingatkah kita pada sejarah bahwa orang sejenius Einstein dan Galilei Galileo dikatakan “aneh” atau “gila” oleh orang-orang yang ada di sekitar mereka pada saat itu. Lalu, ketika kita mempelajari sejarah kebesaran nama kedua manusia jenius itu saat ini, siapakah yang sebenarnya “gila”? Einstein atau justru orang-orang yang menilainya gila?
Anggapan akan sebuah keanehan itu sendiri, bisa muncul karena kita sudah punya persepsi tentang sesuatu. Kita diajarkan sejak kecil kalau perempuan itu memakai rok dan bermain boneka. Maka demikianlah.. sejak jaman nenek masih imut-imut, sampai punya gelar 'nenek' sekarang, anak perempuan pastilah pernah memiliki boneka. Sejak kecil kita diajarkan bahwa seorang anak laki-laki tidak boleh bermain boneka, hingga sekarang kita akan bergidik ketika melihat ada seorang laki-laki yang duduk-duduk sambil memegang boneka atau salah satu teman laki-laki kita yang di kamarnya terdapat boneka-boneka lutchu..
Persepsi dan interpretasi. Yah, ini yang terkadang membuat kita harus mengerutkan dahi ketika dihadapkan pada hal-hal yang membingungkan. Lalu apa yang dapat kita jadikan acuan ketiak mengeluarkan opini akan sesuatu? Acuan yang bisa dimengerti dan dipahami oleh orang banyak?. Logika? Logikanya siapa?
Akhirnya aku harus berusaha mengarahkan alur pikir yang semakin membingungkan dalam otak kecil yang tertanam dalam kepalaku ini. logika yang mana yang paling bisa dijadikan acuan?
Kemudian, ketika kita berpikir bahwa orang itu gila.. sebenarnya siapa yang gila? Orang itu? Atau kitalah yang gila? Ha…..ha….ha…..

Links

Powered by