
Hujan… Hujan lagi… Mungkin sudah hampir 2 minggu kota makassar tak pernah mendapat sinar matahari… Dibeberapa tempat, bahkan di sekitar asramaku pun terkena banjir, yang meskipun tak separah banjir di Jakarta ato di jawa tengah yang santer diberitakan.
Semalam suntuk aku coba mencari-cari kegiatan yang bisa memnghilangkan kebosananku, tapi tak satupun yang bisa aku kerjakan. Niat untuk jalan-jalan selalu urung aku laksanakan karena hujan yang tak mau berhenti ini.
Huh,, pakaian yang aku jemur (atau mungkin tepatnya diangin-anginkan) sejak 3 hari yang lalu belum juga kering. Pakaian yang kukenakan saat ini saja sudah 3 hari aku pakai, karena aku pikir aku juga tidak pernah kemana-mana, dan aku harus pandai-pandai memanajemen pemakaian baju, kalo tidak bisa-bisa saja baju habis basah semua.
Hujan diluar sana makin deras, jelas sekali terdengar suara bising angin dan gemercik air yang jatuh di atap seng asramaku yang sudah kaya’ pasar ikan ini. Tapi derasnya hujan diluar sana tak sederas hujan dihatiku yang tak juga reda. Hujan air keragu-raguan dan ketidakjelasan akan kemana langkah kaki aku lanjutkan. Jalan hidup yang ada dalam benakku tak terlihat lagi, tergenang oleh air yang berasal dari kebimbanganku sendiri.
Berat rasanya untuk aku melangkah, karena terjangan angina badai yang berdesir dalam batinku.. lalu aku bertanya sendiri dalam hati, dimana aku harus mencari payung agar aku tak terbasahkan oleh hujan itu?, dimana aku harus mencari sampan agar aku bisa melewati jalan yang tergenang itu? Dimana aku harus berpegang saat badai menerjang tubuhku.
Allahu akbar… Allahu Akbar….
Azan berkumandang di masjid dekat asramaku. Syukur padamu Tuhan engkau menjawab tanya dalam hatiku itu.
Aku harus segera mengambil air wudhu, aku rindu untuk berkeluh kesah padaMu Tuhan, semoga pintu hidayah dan rahmatMu masih terbuka lebar untukku..
Makassar, 27-12-2007







