Hari ini 05 Februari 2008, tepat 5 tahun sudah Bapak meninggalkan kami semua… Bapak meninggalkan Ibuku yang sangat aku sayangi. Bapak meninggalkan adik perempuanku yang baru kelas dua SMA, Bapak meninggalkan adik kecilku yang pada saat itu baru berumur 1 tahun! Meninggalkanku yang saat itu baru saja beberapa bulan meninggalkan sebatik untuk kuliah di kota anging mammiri ini..
Aku kembali teringat saat-saat paling menyedihkan dalam hidupku, saat-saat dimana aku merasa jiwaku sangat labil, aku tertekan dan seakan tidak ingin percaya kalau ternyata istilah “broken home” yang biasa aku lihat di “Tivi-Tivi” itu menimpa keluargaku sendiri.
Aku sempat merasakan beban yang begitu berat, aku sempat berfikir untuk kembali ke sebatik, meski pada saat itu aku baru semester dua di UNHAS. Karena kupikir siapa yang akan membantu Ibuku disana. Aku berpikir bahwa sudah menjadi tanggung jawabku sebagai anak sulung untuk membantu Ibuku yang jelas-jelas kini memikul beban yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya. Tapi aku juga tak bisa melupakan obsesiku begitu saja untuk merasakan bagaimana rasanya duduk dibangku kuliah. Oh, sungguh dilema yang berat untuk “feri” saat itu.
Akhirnya, mulai dari semester 2 aku lewati dengan separuh hati, aku bahkan jadi orang yang terkadang cuek dan memilih untuk mencari kesenangan lain ketika beban pikiran kembali menghantuiku. Aku lebih memilih menghabiskan waktu bermain PS, Bilyard, jalan-jalan kesana kemari. Sampai akhirnya hasil yang kuperoleh adalah : “ 4 semester dengn mengantongi hanya 49 SKS!, “
Yah, Kurang 2 SKS lagi aku langsung di DO pada saat itu…, Tapi alhamdulillah, ternyata Tuhan masih punya rencana lain untukku, aku masih diperkenankanNya untuk kuliah di Kampus Merah ini.
Akhirnya aku terpacu untuk bersemangat lagi, aku kemudian teringat pada semangat Ibuku, Aku terharu dengan hasil pembicaraanku dengan Ibu beberapa hari sebelum aku mendapatkan KHS semester ku yang ke-empat. Ibu berpesan padaku untuk terus berusaha, ia ingin aku tetap bisa sarjana, walaupun hanya dia saat ini yang membiayai kami bertiga, karena Bapak yang sangat tega itu tidak pernah memberi kami nafkah lagi, bahkan hingga 5 tahun saat ini! .
Aku kembali menata hari-hariku, kebiasaan hura-huraku aku jauhkan dari kehidupanku. Hari-hari di kampus, sesaat kembali menyenangkan. Begitu pula dengan hari-hariku di organisasi mahasiswa sebatik (IPMS), aku bahkan terpilih menjadi Ketua untuk periode 2003-2005, walau terus terang hal ini pula yang sedikit banyak membuat kuliahku banyak yang terbengkalai, aku lebih sering pulang ke Nunukan dan Sebatik karena banyaknya urusan organisasi. Tapi Ibuku tak pernah marah, bahkan saat aku jelaskan bahwa banyak kuliahku yang terbengkalai karena jabatanku ini, dia malah memberi semangat dan menyampaikan dukungannya buat aku. Ibu malah kadang jadi tempat konsultasiku ketika aku kebingungan. Bahkan untuk urusan organisasi pun! Ibu turut andil didalamnya.
Ibuku memang orang yang luar biasa, dia memang hanya lulusan SMP, karena itu Ibuku terpaksa tidak merasakan bersekolah SMA hanya karena harus membantu nenek membiayai sekolah adik-adiknya. Mungkin Ibu harus melewati jalan hidup seperti itu karena Ibuku juga anak sulung dari 5 bersaudara, Ibuku juga ditinggalkan Bapaknya yang meninggal saat ia masih SMP, Padahal Ibu termasuk anak yang cerdas saat di sekolah. Aku tahu itu karena aku pernah melihat-lihat Rapot sekolah Ibu yang tersimpan rapi di kamarnya. Ibuku bahkan tidak kalah sama orang-orang lain ketika berbicara mengenai pengetahuan umum. Banyak hal-hal menarik seputar pengetahuan umum yang sampai saat ini masih aku ingat aku dapatkan dari Ibuku.
Ibuku memang luar biasa, sampai saat ini ia masih tegar membesarkan kami bertiga, menjadi kepala rumah tangga, bekerja siang dan malam, tak pernah kenal lelah, walau kadang ia sakit-sakitan, tak pernah kudengar ia mengeluh di depan kami bersaudara.
Masih banyak yang ingin ku tulis tentang Ibu, tapi kurasa tak akan pernah cukup kata-kata untuk mengambarkan betapa luar biasanya sosok Ibu dimataku..
Ibu….. kaulah cermin hatiku, kaulah inspirasi bagiku… tiada orang yang setegar Ibu yang pernah ada dalam hari-hariku… Doaku selalu buatmu… Ibu…







