26 Desember 2008, tepat tiga tahun yang lalu bencana terbesar yang pernah melanda Aceh terjadi. Hempasan gelombang pasang tsunami meluluh lantahkan hamper seluruh wilayh provinsi serambi mekkah itu..
Hari ini, seharian aku tak pernah meninggalkan asrama walau hanya untuk ke warung sebelah, aku tak bisa kemana-mana karna hujan tak henti-hentinya mengguyur kota makassar. Apa akan terjadi bencana besar lagi seperti 3 tahun lalu??, ah, aku tak mau berpikir kea rah itu. Cukup,, cukup derita negeiku ini Tuhan, pintaku dalam hati….
Pagi, siang, sore dan malam hari…. Berita di koran2 dan TV, hanya ada bencana disana-sini. Banjir, gelombang pasang, angina topan, tanah longsor dan fenomena-fenomena alam lainnya terus terjadi.
Mengapa semua ini terjadi?? Apa Tuhan memang sedang memberikan cobaan pada kita? , atau justru malah murkaNya yang datang pada kita yang telah jauh memalingkan wajah dari cahayaNya?!.
Beberapa tahun terkahir, negeri ini tak henti-hentinya dilanda bencana. Kurasa ini adalah teguran besar bagi bangsa ini.. teguran keras bagi para pemimpin kita yang lebih memntingkan jatah “kursi” dan “perolehan suara” pada saat suksesi. Tapi apa yang terjadi saat mereka ada di tahta kebesaran itu?. Suara-suara yang dengan detil dihitung oleh Tim-tim sukses, lantas suara-suara itu seakan tak mereka dengar saat suara itu berteriak, berteriak kelaparan.. berteriak karena kemiskinan, kebodohan kemelaratan dan ketertinggalan!. Mengapa kini mereka yang duduk di singgahsana pemerintahan itu tak mau lagi menghitung suara-suara itu? Mendengar desak suara parau itu??
Rakyat yang tertindas sudah muak dengan janji-janji palsu mereka… dendam dan rasa sakit yang tak pernah di jangkau oleh lingkaran penguasa itu akhirnya membatu, meresap kedalam tanah air ini, mengakar bersama teriakan-teriakan kesedihan, menjalar di perut bumi bersama kepedihan dan kesengsaraan mereka yan dijajah di negeri sendiri.. dan akhirna semua itu meluap! Gempa, Tanah longsor angina topan, banjir, dan semua itu adalah luapan dari ketidakberdayaan kaum-kaum tertindas!
Hingga pada saat mereka tenggelam oleh banjir air mata mereka sendiri, tertimbun bangunan karena gempa dari getaran tubuh mereka sendiri, terbawa arus yang terpicu oleh kemarahan meraka kan ketidak adilan, mereka pun masih tak diperdulikan, mereka harus berteriak lagi dengan sisa-sisa tenaga yang ada, berharap ada yang mau membantu mereka menghadapi bencana. Lalu mengapa engkau masih diam, meski bergerak namun terkadang lamban?
Tuhan, ampunkanlah semua dosa-dosa kami yang tak mendengar suara-suara itu, dan kasihanilah kami yang terbawa jauh dalam kelalaian ini, terimalah tobat kami yang telah jauh berpaling dari nur kasihmu…
Tuhan,,, engkau maha tahu…… kan??
Makassar, 26-12-2007